Berterima Kasihlah, Inggris, Atas Pep Guardiola

0
0

dfa14154-a4fd-4156-800c-4c3f2bd14243_169

 

Derbybola – Berterima kasihlah, wahai sepakbola Inggris, karena Pep Guardiola memilih untuk datang ke Premier League. Ini, siapa tahu, bisa menjadi pembelajaran bagus.

Josep (Pep) Guardiola Sala boleh mengklaim bahwa kedatangannya ke Inggris adalah upaya mencari tantangan di liga yang konon paling populer, megah dan kompetitif di seluruh penjuru dunia. Namun, publik sepakbola dunia, baik awam atau praktisi –bahkan pelaku sepakbola– tentu paham bahwa kedatangan pria botak dari Catalunya ini adalah angin segar yang bisa membantu orang Inggris agar paham bahwa sepakbola tidak hanya persoalan tendang dan lari sekuat-kuatnya.

Usai mengikat kontrak tiga tahun bersama Manchester City, Pep sudah diramalkan akan membawa sesuatu yang baru dan midas untuk City dan juga untuk publik Inggris yang banal itu. Satu yang diyakini, Pep akan mengubah (dan bila perlu) merevolusi habis-habisan stigma orang Inggris tentang cara pandang mereka terhadap sepakbola yang menawan, agung, dan, yang terpenting, mampu memberi kemenangan.

Selama dua dekade terakhir, banyak manajer hebat-cum-pelatih berkualitas kelas dunia yang lalu-lalang di Liga Inggris. Pelopornya, mungkin, suka atau tidak, boleh disebut nama Arsene Wenger. Datang pada 1996, pria Prancis yang sempat melatih di Jepang ini adalah pionir utama yang mengenalkan sports science di sepakbola Inggris. Sayang, waktu yang kemudian menunjukkan bahwa kakek tua dari Strasbourg ini mulai kehilangan sentuhannya dan mungkin, mempersiapkan diri untuk pensiun dalam tiga atau empat tahun ke depan.

Berikutnya ada eks manajer Liverpool, yang kini menangani Newcastle United di Divisi Championship, Rafael Benitez. Rafa, sapaan akrab Benitez, adalah orang pertama (seingat saya) yang mengawali tren penggunaan konsep double pivot di sepakbola Inggris. Ia juga yang dielu-elukan di Melwood sebagai aktor protagonis tentang malam surealis di Istanbul 2005 itu.

Dan sama seperti Wenger, Benitez yang nomaden dan banyak berganti klub, kini tengah berjuang mengembalikan The Magpies ke kasta tertinggi sepakbola Inggris.

Praktis, sejak peralihan menuju era sepakbola modern, hanya Jose Mourinho yang datang ke Chelsea pada 2004 dan langsung membawa aura yang bagus bagi sepakbola Inggris. Jose, pria Setubal itu, paham betul cara menyenangkan publik Inggris dengan segala kontroversinya yang begitu panjang seperti deret gelar yang diraih selama kariernya. Walau banyak dicaci karena pendekatan taktikalnya yang terkesan defensif dan pasif, diakui atau tidak, Jose adalah pionir utama yang membawa arus perubahan yang masif di sepakbola Inggris.

Ia mampu menunjukkan ke publik Inggris yang barbar dan gemar dengan permainan menyerang untuk gigit jari dan mengakui dengan sadar bahwa attack wins you games, defence wins you title. Saya rasa, secara pribadi, eks manajer Porto dan Inter Milan ini patut diberi kredit penting.

Karena ia adalah sosok yang, walau banyak dibenci publik di Inggris (juga dunia, mungkin), toh berkali-kali ia bilang bahwa Inggris adalah liga yang menyenangkan, dengan fakta bahwa ia sudah mencicipi atmosfer sepakbola di Italia dan Spanyol yang kultur dan taktik sepakbolanya lebih maju dan revolusioner dibanding Britania.

 

 

Lewat medio 2010-an, Inggris mulai dibanjiri banyak pelatih asing dengan kualitas taktikal yang bagus dan pemahaman sepakbola yang revolusioner. Di Merseyside, datang pria kharismatik dari Mainz yang menjadi cult hero di Dortmund bernama Juergen Klopp yang dalam waktu singkat mampu membawa dimensi yang baru di Liverpool.

Musim ini, selain Pep Guardiola, ada sosok Italiano baru di tim Chelsea lewat nama Antonio Conte yang sukses mencuri perhatian di Piala Eropa 2016 lalu bersama timnas Italia yang dibawanya sampai babak perempatfinal lewat permainan taktis yang sukses menghempaskan juara bertahan Spanyol.

Dan sekadar trivia, jangan lupakan sosok Claudio Ranieri yang juara musim lalu bersama Leicester City dan mempopulerkan kembali tren 4-4-2 di Inggris yang mulai punah karena hampir tidak ada tim yang memakai taktik tersebut dewasa ini.

Dengan pengantar seperti di atas, itulah kenapa kedatangan Pep ke Inggris adalah berkah puncak dari invasi pelatih asing ke tanah Britania yang diharapkan bisa untuk paling tidak, mengajari orang-orang Inggris itu bahwa sepakbola itu cantik dengan segala problematika dan kesederhanaannya.

Revolusi Taktik Pep Guardiola

Dari 20 pelatih di Premier League musim lalu, mana ada satu di antara mereka yang berani menerapkan inverted fullbacks di dalam skema taktiknya?

Itu gambaran utama kenapa Pep dan revolusi taktiknya di City, seperti yang bisa kita lihat dan amati selama pramusim dan tiga laga awal mereka musim ini, mulai memberikan angin segar yang positif. City begitu taktis, dominan dan menyenangkan ditonton. Progresi serangan rapi, skema menekan lawan pun bagus dengan cara pressing yang tidak seenaknya serta ditunjang dengan inovasi taktikal a la Juego do Posicion milik Pep yang menarik dicermati.

Dari titik awal, kita bisa cermati dengan dicadangkannya (dan akhirnya dipinjamkan ke Torino) kiper nomor satu timnas Inggris selama lima tahun terakhir, Joe Hart.

Disingkirkannya Hart adalah wujud nyata dari apa yang kerap dialami generasi sepakbola Inggris di era modern: Tidak memiliki kiper yang memiliki kapabiltas untuk ikut terlibat aktif di fase membangun serangan sejak dari bawah.

Hart jelas kiper bagus, Gianluigi Buffon bahkan memasukkannya dalam daftar kiper terbaik di dunia. Tapi di era modern, di mana seorang Manuel Neuer diklaim sebagai mutan, kualitas Hart ibarat tenggelam di balik pesona penjaga gawang Jerman itu.

Dan satu lagi yang asyik dari revolusi Pep di City, seperti dijabarkan Ryan Tank dalam sebuah analisis di Football Fandom, gelandang nomor 6 selalu turun ke bawah dan dua bek sayap naik ke atas. Ini jelas hal baru di Inggris yang biasanya kerap meminta para pemain untuk sesegera mungkin mengirim bola ke depan dan menyerang dengan sporadis.

 

Satu lagi yang penting dicermati, seperti sudah dijabarkan di atas, adalah skema inverted fullback yang diterapkan Pep di City. Dari Bacary Sagna sampai Gael Clichy, diinstruksikan Pep untuk naik dan membantu progresi serangan dengan berdiri di tengah. Posisi keduanya tidak terpaku di pinggir lapangan, tapi kerap menusuk masuk ke tengah, mirip-mirip seorang gelandang.

Ini belum lancar memang, karena beberapa kali, City kerap kewalahan ketika lawan menyerang melalui sisi flank (sayap) yang rentan ditinggalkan bek sayap City.

Tapi, ini sinyal bagus karena pengoptimalan bek sayap sebagai gelandang adalah hal yang luar biasa baru di Inggris yang percaya bahwa bek pelari cepat seperti Nathaniel Clyne, Kyle Walker, dan Danny Rose adalah ciri bek sayap yang sempurna.

Satu lagi quest Pep yang mulai memberi sinyal positif, yakni mengoptimalkan pemuda 49 juta poundsterling, Raheem Sterling, untuk tidak lagi berlarian tidak jelas di lapangan seperti ayam tanpa kepala dan mulai mengajari pemuda Inggris keturunan Jamaika untuk menggunakan kecepatannya dengan cara yang efektif dan efisien.

Dengan sederet fakta di atas, harus diakui bahwa dari tiga laga resmi Manchester biru musim ini, bisa ditarik sedikit kesimpulan bahwa revolusi pria Catalunya itu di Manchester mulai beraksi dan sesegera mungkin, kita akan bisa menikmati hasilnya di lapangan.

Bagi penggemar sepakbola di belahan dunia manapun, Liga Inggris musim ini tidak lagi membosankan secara taktikal, dan bagi Inggris sendiri, mereka harus memanfaatkan kehadiran Pep sebagai berkah yang setara dengan kemunculan komet Halley di Bumi. Karena mungkin, Pep tidak akan menetap dalam waktu yang lama di Inggris.

Share your vote!
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

LEAVE A REPLY