Pengorbanan Zabaleta yang Berbuah Manis

0
9

d9885806-0ba0-485f-ba5a-8172e5cd8260_169

Derbybola.com Manchester – Pablo Zabaleta harus mengambil keputusan sulit pada musim panas ini. Keputusan yang diambilnya itu memberinya kesempatan untuk menghidupkan lagi kariernya di Manchester City.

Kedatangan Pep Guardiola sebagai manajer baru City sempat membuat masa depan Zabaleta dispekulasikan. Dengan usianya yang sudah 31 tahun, Zabaleta sempat diduga tak akan masuk ke dalam rencana Guardiola. Dia bahkan disebut-sebut akan hengkang ke AS Roma.

Apalagi, Zabaleta musim lalu telah kehilangan posisinya sebagai pilihan pertama di posisi bek kanan City. Pemain asal Argentina itu terus bergelut dengan cedera engkel dan akhirnya kalah bersaing dengan Bacary Sagna.

Namun, tenaga Zabaleta ternyata masih dibutuhkan oleh Guardiola. Saat Sagna harus absen karena cedera hamstring, Zabaleta menjadi andalan sang manajer di sisi kanan pertahanan The Citizens.

Apa yang dilalui Zabaleta saat ini tak terlepas dari pengorbanan yang dia lakukan. Dia harus melewatkan kesempatan tampil di Copa America Centenario bersama timnas Argentina demi menjalani operasi engkel.

“Saya telah bermain selama lebih dari setahun dengan cedera engkel dan melaluinya dengan injeksi. Jika melihat ke belakang, mungkin melakukan injeksi bukanlah keputusan yang tepat,” ujar Zabaleta, yang kembali masuk skuat Argentina untuk laga melawan Uruguay dan Venezuela di Kualifikasi Piala Dunia 2018.

“Saya harus mengatasi masalah itu dan menjalani operasi untuk menghilangkan pengapuran yang telah membatasi pergerakan saya. Saya harus beristirahat selama tiga bulan setelah operasi dan saya menghabiskan musim panas untuk memulihkan engkel saya dan kembali ke puncak kebugaran,” jelasnya.

“Saya harus melewatkan kesempatan bermain untuk negara saya di Copa America, yang mana merupakan salah satu keputusan tersulit dalam karier saya,” tutur Zabaleta.

“Butuh waktu empat tahun sampai Copa America datang lagi, dan saya akan berumur 35 tahun. Anda tak pernah tahu, tapi itu mungkin adalah kesempatan terakhir saya. Namun, saya merasa jauh lebih baik sekarang dan tak merasakan sakit apapun,” katanya.

Di bawah arahan Guardiola, Zabaleta bukan hanya bertugas sebagai bek kanan. Saat City menguasai bola, dia juga diminta bergerak ke tengah dan menjadi semacam gelandang tengah tambahan. Bagi Zabaleta, ini bukan hal baru.

“Kami punya peran yang berbeda musim ini. Kadang-kadang bermain lebih ke tengah dan menjadi bagian dari proses membangun serangan, lalu dengan cepat kembali ke posisi ketika kami kehilangan bola,” ujarnya.

“Saya bermain sebagai gelandang tengah di bawah (manajer-manajer City sebelumnya) Mark Hughes dan Roberto Mancini. Jadi, ini bukan hal baru bagi saya,” kata Zabaleta seperti dikutip Mirror.

Share your vote!
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

LEAVE A REPLY