Perhatikan Rooney

0
2

8d8078cd-d3ea-480c-9833-4c76ecf27da2_169Derbybola-Dalam bait-bait “Perhatikan Rani”, Eross Candra menuturkan dengan elok sebuah cerita soal kakak yang beranjak dewasa dan mulai menghadapi berbagai terpaan.

Menariknya, kendati pun tidak menggebu-gebu, bait-bait tersebut dituturkan dalam sebuah lagu yang lugas, tidak neko-neko, tapi penuh optimisme. Selayaknya kebanyakan lagu Sheila on 7 –band Eross yang membawakan lagu tersebut–, “Perhatikan Rani” mengalir begitu saja. Terpaan di dalam liriknya sebatas angin lalu.

Rasa-rasanya, Eross memang memiliki kecenderungan untuk menyempilkan filosofi dengan cara yang sederhana dan tanpa pretensi berlebihan dalam lirik-lirik yang ia buat. “Perhatikan Rani” mencontohkan itu; bahwa semakin bertambah tua seseorang, wajar kalau persoalan yang mengelilinginya semakin banyak.

Sekarang, mari kita ganti “Rani” dengan “Rooney”. Rooney di sini, tentu saja, adalah Wayne Rooney, kapten Manchester United dan timnas Inggris tersebut.

Rooney adalah enigma. Sebuah tanda tanya. Segala sesuatu yang menyangkut dirinya dalam beberapa tahun terakhir hanya beralih dari satu pertanyaan ke pertanyaan lain, lalu dari pedebatan lain ke perdebatan lain. “Di mana posisi bermain terbaiknya?”, “Masihkah dia pantas dimainkan sebagai striker?”, “Apakah Rooney sudah habis?” dsb. dsb.

Rooney baru berusia 30 tahun. Sudah dicoret dan dicap habis di usia yang sebenarnya belum tua-tua amat adalah nasib yang agak mengenaskan. Semestinya (dan idealnya), dengan ban kapten yang diemban di lengannya, Rooney pada usia 30 adalah Rooney yang menjadi panutan sekaligus karang kokoh buat timnya. Eric Cantona pada usia 30 seperti itu, demikian juga dengan Roy Keane.

Rooney tidak memiliki karisma seperti Cantona, tidak pula punya sifat yang kelewat keras seperti Keane. Jika Keane kerap meneriaki rekan satu timnya –dalam maksud memotivasi– bahkan di sesi latihan sekali pun, kita tidak pernah melihat atau mendengar cerita serupa dari Rooney. Rooney adalah kapten yang berbeda dibandingkan dua pendahulunya itu.

Ketika kita mulai mempertanyakannya, yang terjadi adalah sebaliknya: David Moyes memperpanjang kontraknya, Louis van Gaal memberikannya jabatan kapten tim, dan Jose Mourinho menjamin tempatnya di tim utama.

Salah satu pertanyaan pertama yang diterima Mourinho tak lama setelah resmi menjadi manajer United adalah soal Rooney. Bukan persoalan apakah suami Coleen McLoughlin itu masih mendapatkan tempat atau tidak, melainkan di mana Mourinho akan memainkannya. Ini memang salah satu tanda tanya yang sudah sering disinggung-singgung.

Pendapat umum yang beredar menyatakan bahwa posisi gelandang adalah posisi Rooney di masa depan. Salah satu alasannya adalah kemampuan Rooney melepas operan, kendati –jika membaca statistiknya musim lalu– akurasi operan jauh Rooney lebih baik daripada operan pendeknya. Namun, Mourinho berpendapat lain. “Akurasi operan saya juga bagus kalau tidak ditekan lawan,” ucapnya, seraya menegaskan bahwa Rooney adalah seorang striker baginya, bukan seorang gelandang.

[Baca Juga: Posisi Gelandang adalah Masa Depan Wayne Rooney?]

Tapi, jika melihat pergerakan Rooney di dalam pertandingan, Mourinho belum sepenuhnya memegang ucapannya. Rooney masih kerap turun jauh ke lini tengah. Pada akhirnya, pergerakan Rooney itu menimbulkan pertanyaan lain: Bagaimana jika akhirnya Paul Pogba main dan posisi keduanya justru bersinggungan?

Kekhawatiran tersebut lantas ditepis jauh-jauh oleh eks bek Liverpool, Jamie Carragher. Dalam sebuah analisisnya di Monday Night Football, Carragher menyebut tidak akan ada masalah jika Rooney dan Pogba dimainkan berbarengan. Andai Rooney mundur jauh ke belakang, Pogba bisa naik ke depan mengisi posisi yang ditinggalkan Rooney –dan begitu juga sebaliknya.

Oke, itu persoalan posisi dan peran. Lalu, bagaimana dengan teknik? Fakta bahwa Rooney kini tinggal berjarak empat gol dari rekor pencetak gol terbanyak klub dan sudah membuat 1 gol plus 2 assist dalam tiga laga terakhir kerap disanggah dengan kemampuan first touch-nya dan akurasi operan pendeknya.

 

Pada laga melawan Hull City akhir pekan lalu, ada beberapa momen di mana Rooney kehilangan bola di area lapangan tim sendiri. Beruntung buat Rooney (dan juga United), bola yang sudah dikuasai pemain Hull kembali bisa direbut oleh lini pertahanan. Persoalan teknik Rooney ini dianggap bisa mengganggu aliran serangan tim sendiri.

Tapi, lagi-lagi, seperti yang sudah disebutkan di atas, Rooney adalah enigma. Ketika dia membuat sedemikian banyak kesalahan, dia menebusnya sendiri dengan sebiji assist di menit-menit akhir. Semua berulang lagi. Semua kembali ke titik awal. Perdebatan kembali muncul: Rooney sudah habis atau belum?

Kontribusi berupa gol dan assist jelas tidak bisa dikesampingkan begitu saja. Oleh karenanya, jika masih mengkhawatirkan kemampuan first touch-nya yang tak kunjung membaik atau akurasi operan pendeknya, saya beranggapan bahwa lebih baik peran Rooney disederhanakan saja. Bebaskan dia dari peran menerima bola di lini tengah sehingga ia tidak perlu jauh-jauh turun. Atau, jika memang ngotot memasangnya di posisi “nomor 10”, jadikanlah dia false 10.

Toh, Mourinho pernah mengenal seorang pemain yang pernah memerankan false 10 dengan baik. Namanya Wesley Sneijder. Mengingat Rooney masih kerap gatal menggunakan tenaganya –seperti yang ia perlihatkan ketika melewati Ahmed Elmohamady akhir pekan lalu, sebelum memberi assist untuk Marcus Rashford–, ini adalah peran yang bisa jadi cocok untuknya. Bayangkan begini: Zlatan Ibrahimovic menarik keluar bek yang mengawalnya, meninggalkan ruang kosong di jantung pertahanan untuk dieksploitasi oleh Rooney.

Jika peran ini tidak berhasil juga, maka Mourinho (dan mereka yang mendukung Rooney) agaknya harus berbesar hati. Dengan banyaknya opsi yang dimiliki lini depan United musim ini, seharusnya mereka tidak terpaku pada satu pemain atau satu gaya saja. Sebab, bukankah seorang pemain tidak lebih besar daripada tim itu sendiri? Dan bukankah Mourinho terkenal punya banyak trik?

Tapi, tidak perlu khawatir. Rooney bukannya sudah tidak berguna sama sekali. Pada laga ujicoba melawan Galatasaray, terlihat juga cara lain untuk memainkannya. Dengan memasangnya sebagai “nomor 10” dan dikelilingi pemain-pemain cepat seperti Ashley Young dan Rashford, Rooney bisa dengan bebas turun ke tengah dan melepaskan umpan jauh untuk dikejar pemain-pemain cepat itu. Salah satu hasilnya, umpan panjang Rooney di laga itu dikejar oleh Rashford yang akhirnya berujung penalti untuk ‘Setan Merah’.

Agak-agaknya, Rooney perlu berbesar hati. Seperti lirik lagu yang disebutkan di awal tulisan, tambah tua seseorang tambah banyak juga masalah yang menerpa. Mungkin Rooney merindukan masa-masa di mana ketika ia masih berbaju biru. Tidak lama setelah membobol gawang David Seaman, ia masih sempat mengayuh sepedanya dan bermain bola di jalanan.

Share your vote!
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

LEAVE A REPLY